TIDAK BUANG HAJAT DENGAN POSISI MENGHADAP KIBLAT

96
TIDAK BUANG HAJAT DENGAN POSISI MENGHADAP KIBLAT
Perkiraan waktu baca: 2 menit
image_pdfUnduh PDF

وَعَنْ سَلْمَانَ الفَارِسِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قِيْلَ لَهُ: قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الخِرَاءَةَ! قَالَ: فَقَالَ أَجَلْ: لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ القِبْلَةَ بِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِاليَمِيْنِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلَاثَةِ أَحْجَارٍ، أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيْعٍ أَوْ بِعَظْمٍ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Salmān al-Fārisi raḍiyallāhu ‘anhu dia berkata bahwa seseorang bertanya kepadanya, “Apakah Nabi kalian mengajarkan segala hal kepada kalian, hingga urusan buang hajat?” Beliau (Salmān) menjawab, “Tentu saja! Kami dilarang menghadap kiblat ketika buang hajat, besar dan kecil, beristinja dengan tangan kanan, beristinja dengan kurang dari tiga batu (kerikil), atau beristinja dengan kotoran hewan atau tulang.”[1]

Kosa kata hadis:

  1. SalmānAbu ‘Abdillāh al-Fārisi raḍiyallāhu ‘anhu, beliau juga dikenal sebagai Salmān Ibn Islam atau Salmān Al-Khair. Kampung asal beliau Rāmahurmuz atau Ashbahān. Beliau melakukan perjalanan yang panjang dalam pencariannya terhadap tempat diutusnya Nabi ﷺ. Selama perjalanannya tersebut beliau mengalami masa-masa diperbudak oleh lebih dari sepuluh tuan.[2] Salmān al-Fārisi raḍiyallāhu ‘anhu semasa hidupnya hanya mau makan dari usahanya sendiri dan jika ada kelebihan dari usaha tersebut beliau sedekahkan. Beliau wafat di kota Madinah tahun 36 hijriah pada usia sekitar 80 tahun, dan sebagian ulama seperti al-Żahabi menegaskan usia beliau ketika wafat 250 tahun.[3]
  2. (الخِرَاءَةَ) Al-Khirāh artinya adab ketika buang hajat.[4]
  3. (رَجِيْعٍ) Rajī’ artinya kotoran hewan atau najis. Hikmahnya karena najis tidak dapat difungsikan untuk membersihkan dan mengangkat najis.
  4. (عَظْم) ‘Aẓm artinya tulang. Hikmahnya karena tulang struktur fisiknya yang licin sehingga tidak maksimal mengikat dan mengangkat najis.[5]
Baca juga:  CARA MENYUCIKAN TANAH ATAU SELAINNYA YANG TERKENA NAJIS

Makna hadis:

Salmān al-Fārisi raḍiyallāhu ‘anhu menegaskan kepada orang yang bertanya kepadanya bahwa Nabi Muhammad ﷺ telah mengajarkan segala sesuatu yang dibutuhkan umatnya dalam urusan agama hingga adab buang hajat sebagaimana telah disinggung oleh penanya.[6] Nabi ﷺ mengajarkan adab-adab buang hajat, di antaranya tidak menghadap kiblat ketika buang hajat, tidak beristinja dengan tangan kanan, tidak beristinja dengan kurang dari tiga batu (kerikil), dan tidak beristinja dengan kotoran hewan atau tulang.

Faedah dan istinbat dari hadis:

  1. Hadis ini menunjukkan bahwa adab nabawi ketika buang hajat adalah tidak menghadap kiblat.
  2. Hadis tersebut mempertegas tentang larangan beristinja dengan tangan kanan dan jumhur ulama memandang sebagai bentuk adab yang baik dan pola hidup yang sehat dan bersih. Sunnah Nabi ﷺ mengajarkan penggunaan tangan kanan untuk makan dan minum, menerima dan memberi, sedangkan tangan kiri untuk membersihkan najis dan yang semisalnya.
  3. Bolehnya beristinja dengan paling sedikit tiga batu yang merupakan benda suci dan bersih jika seseorang tidak menggunakan air atau pengganti ketika air tidak ada. Hikmah penyebutan tiga butir batu adalah karena batu tidak mampu menghilangkan aar (bekas) najis, manfaatnya mengangkat najis secara ijtihad (upaya maksimal) semata. Berbeda dengan air yang dapat menghilangkan ‘ain (fisik) najis dan bekasnya sekaligus sehingga tidak dipersyaratkan bilangan tertentu.[7]
  4. Larangan beristinja dengan kotoran hewan dan tulang. Imam Abu Hanifah, Malik, dan al-Syāfi’i berfatwa bahwa penggunaan batu (kerikil) ketika buang hajat dapat digantikan oleh segala sesuatu yang suci kecuali makanan.[8] Misalnya tisu, kertas, dan yang semisalnya.

 


Footnote:

[1] HR. Muslim (262).

[2] HR. Al-Bukhāri (3946).

[3] Ibn Ḥajar al-‘Asqalāni. al-Iṣābah fi Tamyīz al-Ṣaḥābah. Jilid 3, hlm. 119.

Baca juga:  RUKHSAH BUANG AIR KECIL DALAM POSISI BERDIRI

[4] Al-Khaṭṭābi. Ma’ālim al-Sunan. Jilid 1, hlm. 11.

[5] Ibid.

[6] Al-Nawawi. Al-Minhāj. Jilid 3, hlm. 154.

[7] Al-Khaṭṭābi. Ma’ālim al-Sunan. Jilid 1, hlm. 12.

[8] Ibn Abd al-Bar. Al-Istiżkār. Jilid 1, hlm. 136.

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments