TAHUKAH NABI ﷺ KITA BERṢELAWAT PADANYA?

80
TAHUKAH NABI KITA BERṢELAWAT PADANYA
TAHUKAH NABI KITA BERṢELAWAT PADANYA
Perkiraan waktu baca: 8 menit
image_pdfUnduh PDF

Pertanyaan:

Afwan ustaż, izin bertanya tentang penggalan hadis berikut:

فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيّ

“Sesungguhnya ṣelawat kalian diperlihatkan kepadaku.”

Bagaimanakah maksud “ṣelawat itu diperlihatkan kepada Rasulullah ﷺ”, ustaż?

(Chandra Kurniawan, Semarang)

Jawaban:

Hadis yang ditanyakan oleh Saudara adalah penggalan dari hadis yang disebutkan dalam kitab-kitab al-Sunan, redaksi hadis di atas secara lengkap adalah sebagai berikut: 

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ، فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ، فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ» فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ؟ – يَعْنِي بَلِيتَ – فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ» (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالنَّسَائِي ابْنُ مَاجَهٍ)

Artinya:

Dari Aus bin Aus raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya yang paling utama dari hari-hari kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam alaihissalām diciptakan, sangkakala ditiup, dan semua manusia dimatikan. Olehnya, perbanyaklah berṣelawat kepadaku pada hari itu, sebab ṣelawat kalian diperlihatkan kepadaku’.” Seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya selawat kami diperlihatkan kepadamu, padahal dirimu telah meninggal?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (H.R. Abū Daud, al-Nasā’ī, Ibnu Majah)   

Takhrij hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Abū Daud dalam Sunan-nya, Bab “Faḍli Yaumi al-Jum’ah wa Lailati al-Jumu’ah”, no. 1047,  al-Nasā’ī dalam Sunan-nya, Bab “Ikṡaru al-Ṣalāti ‘alā al-Nabī “ﷺ”, no. 1374, Ibnu Majah dalam Sunan-nya Bab “fī Faḍli al-Jum’ah, no. 1085, dari jalur Husain bin ‘Alī al-Ju’fī, dari Abdurrahman bin Yazīd bin Jabir, dari Abī al-Asy’aṡ al-Shan’ānī  (namanya adalah Syarahīl bin Adāh al-Shan’ānī), dari Aus bin Aus, dari Nabi ﷺ.

Kualitas Hadis:

Hadis ini dinyatakan sahih oleh Imam al-Hakim (w. 405 H) dan diikuti oleh al-Zahabī (w. 748 H) dalam kitab al-Mustadrak ‘ala al-Ṣahīhain, kitab al-Jum’ah, no. 1029. Disahihkan juga oleh Imam Ibnu Hibbān (w. 354 H) dalam Ṣaḥīḥ-nya, no. 910, disahihkan pula oleh Imam al-Nawawī (w. 676 H), juga diṢaḥīḥkan oleh Syekh Nāṣiruddīn al-Albānī (w. 1420 H) dalam karyanya Ṣaḥīḥ Sunan Abī Daud, no. 962, dan dalam Ṣahīh al-Targīb wa al-Tarhīb, no. 696.[1]

Syarah hadis:

Hadis ini mencakup tiga hal pokok, yaitu: (1) keutamaan hari Jumat; (2) keutamaan selawat kepada Nabi ﷺ di hari Jumat; dan (3) jasad para Nabi tidak dimakan tanah.

A. Keutamaan Hari Jumat

Dalam sabdanya ﷺ,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ النَّفْخَةُ، وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

“Sesungguhnya yang paling utama dari hari-hari kalian adalah hari Jumat. Pada hari itu Adam alaihissalām diciptakan, sangkakala ditiup, dan semua manusia dimatikan.”

Terdapat penjelasan tentang keutamaan hari Jumat. Allah ﷻ dengan Maha Kuasa-Nya, Dia-lah yang berhak memberi keutamaan dan memilih siapa dari makhluk-Nya yang pantas dimuliakan. Salah satu hari yang dimuliakan dalam Islam, namanya menjadi nama surah dan disebutkan dalam ayat Al-Qur’an adalah hari Jumat, sebagaimana dalam firman-Nya dalam surah al-Jumu’ah/62:9,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (الْجُمُعَة: 9)

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. al-Jumu’ah/62:9)

Hari Jumat merupakan hari yang paling utama dari semua hari. Sebab kemuliaannya dapat ditemukan dalam banyak literatur hadis. Dalam hadis ini disebutkan bahwa pada hari Jumat, Nabi Adam alaihissalām diciptakan, sangkakala akan ditiup, dan semua manusia dimatikan (karena di hari Jumatlah terjadi kiamat).

Pada hari Jumat, Allah ﷻ menyempurnakan penciptaan semua makhluk, itulah hari keenam yang disebutkan oleh Allah ﷻ dalam Q.S. al-A’raf: 54, Yunus: 3, Hud:7, al-Furqan: 59, al-Sajadah: 4, Qaf: 38, al-Hadid: 4.[2]

Baca juga:  MERUJUK KEPADA ULAMA SENIOR

Pada hari Jumat, Allah ﷻ menciptakan Adam alaihissalām, Allah ﷻ memasukkannya ke dalam surga dan Allah ﷻ mengeluarkannya dari surga.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ، فِيهِ خُلِقَ آدَمُ، وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا، وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Artinya:

Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda, “Sebaik-baik hari yang di dalamnya matahari terbit adalah hari Jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan surga, pada hari itu ia dikeluarkan darinya, dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari Jumat.” (H.R. Muslim)

Hari Jumat merupakan hari terbaik yang dipilihkan oleh Allah ﷻ khusus bagi kaum muslimin utuk beribadah (hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no.876, Ṣaḥīḥ Muslim, no. 855).

Permisalan pahala bagi orang yang bersegera dalam ibadah salat Jumat bagaikan berkurban dengan seekor unta, bagi yang terlambat bagai berkurban dengan sebutir telur (hadis dalam Ṣaḥīḥ Muslim, no. 850).

Di hari Jumat pula terdapat satu saat dikAbūlkannya doa bagi siapa saja yang memohon kebaikan kepada Allah ﷻ (hadis dalam Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 5294, Sunan al-Tirmiżī, no. 490, Sunan al-Nasā’ī, no. 1431, Sunan Ibnu Majah, no. 1137).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ أَبُو القَاسِمِ ﷺ: «فِي الجُمُعَةِ سَاعَةٌ، لاَ يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ قَائِمٌ يُصَلِّي، فَسَأَلَ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ» (رَوَاهُ البُخَارِي)

Artinya:

Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, Abū al-Qasim ﷺ bersabda, “Pada hari Jumat itu ada satu saat, tidaklah seorang hamba Muslim mengerjakan salat lalu dia memohon kebaikan kepada Allah (tepat pada saat tersebut), melainkan Allah akan mengAbūlkan permohonannya tersebut”. (H.R. al-Bukhārī)

B. Keutamaan Selawat kepada Nabi di Hari Jumat

Dalam sabdanya ﷺ,

فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيهِ

Artinya: “Maka perbanyaklah berselawat kepadaku pada hari itu (Jumat).”

Terdapat penjelasan tentang perintah dan keutamaan selawat ke atas Nabi ﷺ di hari Jumat. Selawat ke atas Nabi ﷺ secara umum merupakan amalan yang utama, sebagaimana dalam Q.S. al-Ahzab/33: 56,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب: 56)

Artinya:

“Sesungguhnnya Allah dan para Malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman! Berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (Q.S. al-Ahzab/33: 56)

Pada penggalan hadis ini juga dijelaskan bahwa selawat ke atas Nabi ﷺ menjadi lebih utama dan mulia jika dilakukan di hari Jumat.  Syekh Muhammad Asyraf al-Azīm Abādī (w. 1329 H) dalam syarahnya terhadap Sunan Abī Daud, ‘Aunu al-Ma’būd, menuliskan,

فَإِنَّ الصَّلَاةَ مِنْ أَفْضَلِ الْعِبَادَاتِ، وَهِيَ فِيهَا أَفْضَلُ مِنْ غَيْرِهَا لِاخْتِصَاصِهَا بِتَضَاعُفِ الْحَسَنَاتِ إِلَى سَبْعِينَ عَلَى سَائِرِ الْأَوْقَاتِ وَلِكَوْنِ إشْغَالَ الْوَقْتِ الْأَفْضَلِ بِالْعَمَلِ الْأَفْضَلِ هُوَ الْأَكْمَلُ وَالْأَجْمَلُ وَلِكَوْنِهِ سَيِّدَ الْأَيَّامِ فَيُصْرَفُ فِي خِدْمَةِ سَيِّدِ الْأَنَامِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَام[3]

Maknanya:

“Sesungguhnya berselawat termasuk ibadah yang sangat afdal. Kebaikan pahalanya akan berlipat ganda jika diamalkan pada hari Jumat, karena kekhususannya dari waktu yang lain. Olehnya, memanfaatkan waktu yang afdal dengan amalan yang afdal merupakan langkah yang sempurna dan terbaik. Oleh karena hari Jumat adalah penghulu hari-hari, maka pantaslah jika hari itu digunakan untuk berkhidmat kepada penghulu para Nabi ﷺ.”

Bagi kaum muslimin, berselawat ke atas Nabi ﷺ bukan sekadar ritual ibadah zikir biasa, namun lebih pada ungkapan terima kasih kepada baginda Nabi ﷺ karena dengan sebab perantaraannya, Allah ﷻ mengeluarkan manusia dari kegelapan peradaban menuju cahaya iman, dengannya Allah ﷻ menunjuki manusia jalan yang lurus. 

Makna Selawat kepada Nabi adalah sebagaimana yang disebutkan oleh Syekh Abdu al-Muhsin al-Abbād al-Badrī dalam syarah-nya terhadap Sunan Abī Daud,

وَصَلاَةُ اللهِ عَلَى نَبِيِّهِ أَحْسَنُ مَا قِيْلَ فِي مَعْنَاهَا: ثَنَاؤُهُ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ، وَتَعْظِيْمُهُ فِي الْمَلَأِ الْأَعْلَى، فَكَوْنُ الْمُسْلِمِ يُصَلِّي عَلَى النَّبِي ﷺ فَهُوَ يَسْأَلُ اللهَ أَنْ يُثْنِي عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَلاَئِكَةِ، وَأَنْ يُعَظِّمَهُ فِي الْمَلَأِ الأَعْلَى، وَأَنْ يَرْفَعَ مِنْ قَدْرِهِ، وَيُعْلِي مِنْ شَأْنِهِ صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْهِ[4]

Baca juga:  ORIENTASI HIDUP, DUNIA ATAU AKHIRAT?

Maknanya:

“Makna terbaik yang disebutkan tentang selawat Allah ke atas Nabi ﷺ adalah pujian Allah atasnya di sisi para Malaikat, Allah memuliakannya di penghuni langit. Olehnya, jika seorang muslim berselawat ke atas Nabi ﷺ, sesungguhnya dia sedang memohon kepada Allah agar Allah karuniakan pujian dan kemuliaan kepada Nabi ﷺ di tengah-tengah penduduk langit, dan agar Allah mengangkat dan meninggikan derajatnya serta kedudukannya. Semoga selawat, salam serta berkah terlimpahkan atasnya.”

Kemudian dalam sabdanya ﷺ ,

(فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ)

Artinya: “Sebab selawat kalian diperlihatkan kepadaku.”

Nabi ﷺ menjelaskan alasan mengapa Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk memperbanyak selawat atasnya pada hari Jumat, yaitu karena selawat umatnya diperlihatkan kepadanya ﷺ. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa selawat seorang muslim akan sampai kepada Nabi ﷺ dimanapun muslim itu berada, sebagaimana hadis berikut, 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا، وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا، وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ» (رواه أبو داود)

Artinya:

Dari Abū Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (tidak pernah dilaksanakan di dalamnya salat, tidak pula dibacakan Al-Qur’an, sehingga seperti kuburan), dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai Id (selalu di kunjungi dan didatangi setiap waktu), dan berselawatlah kalian kepadaku, sesungguhnya selawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.” (H.R. Abū Daud)

Proses sampainya selawat seorang muslim kepada Nabi ﷺ adalah melalui perantaraan para malaikat yang ditugaskan oleh Allah ﷻ untuk berkeliling di bumi, melihat siapa saja yang memanjatkan selawat dan salam ke atas Nabi ﷺ , sebagaimana dalam beberapa sabdanya berikut ini,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن مسعود رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً سَيَّاحِينَ فِي الْأَرْضِ يُبَلِّغُونِي مِنْ أُمَّتِي السَّلَامَ» (رَوَاهُ التِّرْمِذِي والنَّسَائِي)

Artinya:

Dari Abdullah bin Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat sayyahīn (yang berkeliling) di bumi. Mereka menyampaikan salam dari umatku kepadaku.” (H.R. al-Tirmiżī dan al-Nasā’ī)

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ؛ فَإِنَّهُ مَشْهُودٌ، تَشْهَدُهُ الْمَلَائِكَةُ، وَإِنَّ أَحَدًا لَنْ يُصَلِّيَ عَلَيَّ، إِلَّا عُرِضَتْ عَلَيَّ صَلَاتُهُ، حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهَا» قَالَ: قُلْتُ: وَبَعْدَ الْمَوْتِ؟ قَالَ: «وَبَعْدَ الْمَوْتِ، إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ، فَنَبِيُّ اللَّهِ حَيٌّ يُرْزَقُ» (رَوَاه ُابْنُ مَاجَهٍ، وَضَعَّفَهُ الأَلْبَانِي)

Artinya:

Dari Abū Darda’ raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Perbanyaklah selawat kepadaku pada hari Jumat, karena sesungguhnya ia disaksikan oleh para malaikat. Tidaklah salah seorang dari kalian berṣelawat kepadaku kecuali selawatnya akan ditampakkan kepadaku hingga dia selesai.” Aku (Abū Darda’) bertanya, “Setelah wafatmu juga?” Beliau ﷺ menjawab, “Ya, setelah wafatku, sesungguhnya Allah mengharamkan bagi bumi untuk memakan tubuh para Nabi. Maka Nabi Allah akan selalu hidup dan diberi rezki.” (H.R. Ibnu Majah, dan dinilai daif oleh Syaikh al-Albānī)

Berdasarkan dalil di atas maka dapat dipahami bahwa makna    مَعْرُوْضَةٌ“diperlihatkan” adalah bahwa selawat dan salam itu disampaikan dan ditampakkan kepada Nabi ﷺ. Syekh Mahmud al-Subki dan Abū al-Hasan al-Sindi dalam syarah mereka terhadap Sunan Abi Daud menganalogikan selawat itu bagaikan hadiah,

وَالْمَعْنَي أَنَّ الصَّلاَةَ عَلَيْهِ ﷺ يَوْمَ الْجُمُعَةِ تُعْرَضُ عَلَيْهِ كَعَرْضِ الْهَدَايَا عَلَى مَنْ أَهْدَيْتَ إِلَيْهِ فَهِيَ مِنْ أَهَمِّ الأَعْمَالِ الطَّيِّبَةِ [5]

Maknanya:

“Makna bahwa selawat atas Nabi ﷺ pada hari Jumat diperlihatkan padanya adalah ibarat hadiah yang engkau berikan kepada seseorang, maka selawat ini adalah termasuk amalan baik yang sangat penting.”  

Redaksi selawat kepada Nabi ﷺ dapat dibagi dua: pertama, redaksi selawat dari Nabi ﷺ sendiri, sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadisnya yang dalam kitab-kitab hadis; kedua, redaksi selawat dari selain Nabi ﷺ.

Baca juga:  PERBEDAAN ATSAR DAN HADIS

Semua redaksi selawat yang bersumber dari Nabi adalah selawat yang ideal, mengamalkannya merupakan amalan yang utama. Adapun jika redaksi selawatnya dari selain Nabi ﷺ, maka perlu teliti dalam mengamalkannya. Jika bait-bait selawatnya mengandung puji-pujian yang tidak berlebihan maka boleh diamalkan, namun jika bait-bait selawatnya mengandung puji-pujian yang ghuluw (mengangkat Nabi Muhammad ﷺ) di atas dari derajatnya sebagai manusia, maka harus ditinggalkan.

Lebih baik mengucapkan selawat tanpa berirama. Kalaupun jika ingin berirama saat melagukan selawat maka perlu diseleksi. Jika iramanya berlebihan, menyerupai irama musik tertentu, atau bahkan mengikuti intonasi sebuah lagu yang trend, maka hal itu terlarang.

Faidah yang didapatkan dari selawat ke atas Nabi ﷺ sangat banyak, di antaranya adalah, seperti yang disebutkan dalam hadis berikut ini:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ» (رَوَاهُ النَّسَائِي)

Artinya:

Dari Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan sepuluh kali, akan dihapuskan darinya sepuluh keburukan, dan dia diangkat sepuluh derajat (kemuliaan).” (H.R. al-Nasā’ī)

C. Jasad para Nabi tidak dimakan tanah

Dalam sabdanya ﷺ,

إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.”

Terdapat penjelasan bahwa para Nabi utusan Allah ﷻ merupakan makhluk mulia, mereka memiliki kekhususan dari manusia lainnya dalam banyak hal, salah satunya adalah jasad mereka tidak dimakan tanah, walaupun asalnya fungsi tanah adalah memakan apa saja yang ditanam di dalamnya, seperti dalam firman Allah Q.S. Qaf/50: 4,

قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الْأَرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ (ق: 4)  

Artinya:

“Sungguh Kami telah mengetahui apa yang ditelan bumi dari (tubuh) mereka, sebab pada Kami ada kitab (cataan) yang terpelihara baik.” (Q.S. Qaf: 4)

Dalam surah ali Imran: 169, Allah ﷻ mengecualikan status orang yang mati syahid (syuhada) di jalan Allah dari orang yang mati biasa. Para syuhada akan selalu hidup di sisi Rab, bahkan mereka mendapat rezki. Kemuliaan para Nabi lebih tinggi dari para syuhada, sehingga kenikmatan dalam alam barzakh para Nabi, lebih sempurna dari para syuhada.

Perjumpaan Nabi Muhammad ﷺ bersama dengan para Nabi di malam isra mi’rajnya juga menunjukan akan kehidupan mereka setelah wafat mereka. Di langit pertama Nabi ﷺ bertemu dengan Nabi Adam, di langit kedua bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa, di langit ke tiga bertemu dengan Nabi  Yusuf, di langit ke empat bertemu dengan Nabi Idris, di langit ke lima bertemu dengan Nabi Harun, di langit ke enam bertemu dengan Nabi Musa, di langit ke tujuh bertemu dengan Nabi Ibrahim ‘alaihimussalām.

Semua ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ bisa menerima dan mengetahui kiriman selawat dari ummatnya yang memanjatkan selawat kepadanya.

Wallāhu ta’ālā a’lam.

 


Footnote:

[1] Lihat: Muhammad Nashiruddīn al-Albānī, Shahīh Sunan Abī Daud, (cet. 1, Kuwait, Mu’assasah al-Gharās, 1423 H), jilid 4/214

[2] Imam Ibnu Kaṡīr menjelaskan bahwa, hari pertama Allah memulai penciptaan adalah hari Ahad (Lihat: Mukhtashar Tafsir Ibnu Kasir 2/499). Hari Sabtu merupakan hari ke tujuh dari hari-hari penciptaan. (Lihat: Mukhtashar Tafsir Ibnu Kasir 2/25)

[3] Syekh Muhammad Asyraf al-Azīm Abādī, ‘Aunu al-Ma’būd Syarhu Sunan Abī Daud, (Cet. 2, Bairut, Dār al-Kutub al-Ilmiah, 1415 H), Jilid. 3, h. 260

[4] Abdu al-Muhsin al-Abbād al-Badrī, Syarah Sunan Abī Daud, h. 133 ( sesuai halaman Maktabah syamilah)

[5] Mahmud al-Subki, al-Manhal al-‘Ażb al-Maurūd Syarhu Sunan al-Imam Abi Daud, (Cet. 1, Kairo, Mahba’ah al-Istiqamah, 1351 H), jilid. 6, h. 186. Lihat juga: Abu al-Hasan al-Sindī, Fathu al-Wadūd fi Syarhi Sunan Abī Daud, (Cet. 1, Maktabah Adhwa’u al-Manār, 1431 H/2010 M), jilid. 1, h. 610

image_pdfUnduh PDF
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments